Dirimu,
Apakah kau seorang musafir yang mendambakan kepulangan?
Seorang yang mencari titik temu antara datang dan kepergian.
Menikmati kalam-kalam dari ribuan mil jauhnya, demi bertatap dengan yang dicinta.
Dirimu,
Apakah kau seorang kikir yang menimbun rupiah demi rupiah,
untuk segepok dollar,
atau sekarung dirham,
demi memberangkatkan orangtuamu ke tanah suci,
atau ke Washington D.C.
Dirimu,
Apakah kau seorang tamak yang mengagungkan pemberian?
Sedang kau belum pernah memintaku.
Kuberi lusinan doa, dan kau memamerkannya di depan
hidung sebayamu.
Bertingkah bak gadis kecil yang baru tumbuh perangainya,
juga susunya.
Namun apa kau peduli pada ukurannya?
Semalam sajak dalam tiap puisiku luntur
demi menderma pada engkau kasihku
mawujud sakti melalui rupa-rupa gaib
agar tak ubahnya engkau berkelit
Sekarang apa daya, keluh kesah
hanya dirimu yang mengerti
berbisik seperti ini tiada yang mafhumi
seolah kita bukan insani
Sayang, sekali.
Dirimu pergi untuk yang kesekian kali.
Berobat ke negeri jiran, katamu?
Nyatanya seorang pangeran, tujuanmu?
Mengapa toh harus mencari yang jauh di kala yang dekat mampu?
Apakah kau seorang musafir yang mendambakan kepulangan?
Seorang yang mencari titik temu antara datang dan kepergian.
Menikmati kalam-kalam dari ribuan mil jauhnya, demi bertatap dengan yang dicinta.
Dirimu,
Apakah kau seorang kikir yang menimbun rupiah demi rupiah,
untuk segepok dollar,
atau sekarung dirham,
demi memberangkatkan orangtuamu ke tanah suci,
atau ke Washington D.C.
Dirimu,
Apakah kau seorang tamak yang mengagungkan pemberian?
Sedang kau belum pernah memintaku.
Kuberi lusinan doa, dan kau memamerkannya di depan
hidung sebayamu.
Bertingkah bak gadis kecil yang baru tumbuh perangainya,
juga susunya.
Namun apa kau peduli pada ukurannya?
Semalam sajak dalam tiap puisiku luntur
demi menderma pada engkau kasihku
mawujud sakti melalui rupa-rupa gaib
agar tak ubahnya engkau berkelit
Sekarang apa daya, keluh kesah
hanya dirimu yang mengerti
berbisik seperti ini tiada yang mafhumi
seolah kita bukan insani
Sayang, sekali.
Dirimu pergi untuk yang kesekian kali.
Berobat ke negeri jiran, katamu?
Nyatanya seorang pangeran, tujuanmu?
Mengapa toh harus mencari yang jauh di kala yang dekat mampu?